A. HakikatPembelajaran
1. Pengertian
Pembelajaran
Menurut
Corey dalam Ahmar (2012:11) konsep pembelajaran
adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja
dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu,
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Menurut
Dimyati dan Mudjino dalam Ahmar (2012:10) pembelajaran adalah kegiatan guru
secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara
aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pengertian pendidikan
menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
pasal 1 ayat 20 dalam Ahmar (2012:10) menyatakan bahwa pembelajaran adalah
suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar
Menuru
Hamalik (1994) Pembelajaran adalah suatu kobinasi yang tersusun meliputi
unsur-unsur manusiawi, material, failitas, perlengkapan, dan prosedur yang
saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran
Menurut
pendapat diatas dapat disampaikan bahwa pembelajaran adalah suatu proses
interaksi antara peserta didik, pendidik, dan sumber belajar yang dilakukan
secara terprogram dengan tujuan untuk membantu peserta didik dapat memperoleh
ilmu pengetahuan dengan baik.
2. Komponen
pembelajaran
Sumiati
dan Arsa dalam Ahmar (2012:12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran
dalam tiga ketegori utama, yaitu: guru, isi atau meteri pembelajaran, dan
siswa. Interaksi antar tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran,
media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta
situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya.
a. Tujuan
pembelajaran
Tujuan pembelajaran
menurut Daryano dalam Ahmar (2012:12)
adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan,
dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang
dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
Suryosubroto dalam Ahmar (2012:12) juga menyatakan bahwa tujuan pembelajaran
adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa sesudah
ia melewati kegiatan pembelajaran yang bersangkutan dengan berhasil.
Berdasarkan pendapat
diatas mengenai tujuan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran
merupakan suatu gambaran mengenai pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan
sikap yang harus dimiliki oleh para siswa yang diperoleh dari proses
pembelajaran
b. Materi
Pembelajaran
Materi pembelajaran
merupakan isi dari suatu proses pembelajaran. Menurut Djamarah, dkk dalam Ahmar
(2012:15) materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam
proses belajar mengajar. Menurut Harjanto dala Ahmar (2012:15) terdapat
kriteria dalam pemilihan materi pembelajaran yang akan dikembangkan dalam
sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu:
1) kriteria tujuan pembelajaran, 2) materi pembelajaran supaya terjabar, 3)
relevan dengan kebutuhan siswa,kesesuaian dengan konsidi masyarakat, 5) materi
pembelajaran mengandung segi-segi etik, 6) materi pembelajaran tersusun dalam
ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis, 7) materi pembelajaran
bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.
c. Metode
pembelajaran
Metode pembelajaran
merupakan cara dalam menyajikan materi pembelajaran dengan cara-cara atau
langkah-langkah yang sesuai dengan isi materi dan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Menurut sumiati dan asra dalam Ahmar (2012:18) ketepatan penggunaan
metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber
atau fasilitas, situasi dan konidsi dan waktu.
d. Media
pembelajaran
Media pembelajaran
dapat digunakan pada proses pembelajaran dengan memperhatikan materi pembelajaran
yang akan di sajikan. Menurut Sulisiana dan Riyana dalam Ahmar (2012:19)
mengklasifikasikan peenggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya media
berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu: penggunaan media kelas dan penggunaan media diluar
kelas.
e. Evaluasi
pembelajaran
Evaluasi pembelajaran
merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran
diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat.
f. Pserta
didik
Siswa merupakan
komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar
yang tinggi
g. Pendidik
Guru
merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena
tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu
adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h. Lingkungan
tempat belajar
Lingkungan
yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa,
sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam
belajar.
B. Model
desain pembelajaran
Menurut Sambaugh (dalam Sanjaya 2013) Desain sebagai
proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear. Desain instruksional dapat
diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan
pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta
aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang
dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan
Menurut Gentry (dalam Sanjaya 2013) Berpendapat
bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan
pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media
yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan
Gagne (1992)
menjelaskan bahwa degsain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar
siswa, dimaa proses, belajar itu memilki tahapan segera dan tahapan jangka
panjang. Belajar seseorang dipengaruhi
oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal.
1.
Faktor internal
adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam
individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan
bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2.
Faktor eksternal
adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan
kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran
berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi
yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Kriteria Degsain
Intruksional
a. Berorientasi
pada siswa
Sistem pembelajaran
siswa merupakan komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam
mengembangkan perencanaan dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran
dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang
dapat dilihat dan dipahami dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain,
kemampuan dasar dan gaya belajar.
b. Bepihak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan
sistem dapat mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari
ketidakpastian melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang
mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c. Teruji
secara empiris
Desain instruksional
harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.
Model-model desain
intruksional
Perencanaan pembelajaran
berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya
memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses
pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum sekolah, sedangkan desain
menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses
belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001) bahwa desain
intruksinonal adalah a systematic thingking process to help learners learn.
Banyak model desain pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah ini disajikan beberapa di antaranya.
a. Model
Kemp
Model desain sistem
instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh
Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain
sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem
instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja urutan komponen
tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu
model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen dalam
suatu desainn instruksional menurut Kemp adalah:
1) Hasil
yang ingin dicapai
2) Analisis
tes mata pelajaran
3) Tujuan
khusus belajar
4) Aktivitas
belajar
5) Sumber
belajar
6) Layanan
pendukung
7) Evaluasi
belajar
8) Tes
awal
9) Karakteristik
belajar
b. Model
desain sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini
memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program
pembelajaran yaitu:
1) Menganalisis
dan merumuskan tujuan
2) Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3) Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar
4) Merancang
sistem
5) Mengimplementasi
dan melakukan kontrol kualitas sistem
6) Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil
evaluasi
c. Model
Dick and Cery
Seperti desai model Banathy, dalam mendesain
pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan
pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus
yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan
kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai
selanjutnya dirumuskan tes dalam bentuk
Criterion Reference Test, artinya tes
yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus
selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran. Langkah akhir dari desaim
adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam
merevisi program pembelajaran.
d. Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung
pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program
pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru
melaksanakan proses belajar mengajar.
PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1) Merumuskan
tujuan.
2) Mengembangan
alat evaluasi.
3) Mengembangkan
tkegiatan belajar mengajar.
4) Mengembangkan
program kegiatan pmbelajaran yakti merumuskan materi pembelajaran
5) Pelaksanaan
program
C. Analisis
Kebutuhan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kata
bantu penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri, serta hubungan antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat
dan pemahaman makna keseluruhan proses pencarian jalan keluar yang berangkat
dari dugaan akan keberadaanya, penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala
sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk
memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai suatu
proses kebuthan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode
untuk mengetahui perbedaan antaar kondisi yang diinginkan dengan kondisi yang
ada. Kondidi yang diinginkan disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi
yang ada di sebut kondidi real.
Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni
2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk
mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan
kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
1. Fungsi
analisis kebutuhn
Marrison menjelaskan
beberapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevam dengan pekerja atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran
b) Mengidentifkasi
kebutuaha mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang menganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c) Menyjikan
priorias-prioritas untuk memilih tindakan
d) Meberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas kebutuhan
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan
kebuthan:
a) Kebutuhan
normative
Membandingkan peserta
didik dengan standar nasional misal, UAN, SNPTN, dans ebagainya
b) Kebutuhan
komperatif
Membandingkan peserta
didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel.
c) Kebutuhan
yang dirasakan , yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing
peserta didik yang perlu ditingkatkan.
d) Kebutuhan
yang diekspresikan, yaitu kebuthan yang dirsakan seseorang mampu diekspresikan
dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursu.
e) Kebutuhan
akan masa depan , yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi
di masa mendatang. Misal, penerapan teknik pebelajaran yang baru
f) Kebutuhan
yang mendesak, yaitu faktor negatif yang baru muncul diluar dugaan yang sangat
berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam.
3. Langkah-langkah
analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan
terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan
informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam
langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a. Pengumpulan
informasi
Dalam merancang
pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu
informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang
akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh
keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang
dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta
skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b. Identifikasi
kesenjangan
Dalam identifikasi
kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan
melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman
menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama,
yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber
yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome
merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori kebutuhan
seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di
bawah ini:
1) Input
2) Proses
3) Produk
4) Output
5) Outcome
Komponen
input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output,
meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome
meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa
depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil,
desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi
pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan
kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah,
desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni
input, proses, produk, dan output.
c. Analisis
performance
Tahap ketiga dalam
proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis
performance dilakukan setelah desainer
memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan
adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat
dipecahkan melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan
dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan
struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan
dan alat – alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor – faktor
penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada
saat need assessment berlangsung.
Analisis performance
meliputi:
1)
Mengidentifikasi
guru
2)
Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
3)
Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
4)
Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
d. Identifikasi
hambatan
Tahap keempat dalam
need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta
sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala bias muncul sehingga dapat berpengaruh
terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu
fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat
atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang
dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan dan kelengkapan
fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan
beserta pengaturannya
D. Analisis
karakteristik siswa
Karakteristik siswa merujuk kepada ciri khusus yang
dimiliki oleh siswa, dimana ciri tersebut dapat mempengaruhi tingkat
keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karakteristik siswa merupakan ciri
khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu atau
kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran
(Alfin, 2015). Analisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya
yang dilakukan untuk memperoleh
pemahaman tentang tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan siswa,
berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang
begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti siswa, perkembangan sosial,
budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program
pendidikan/pembelajaran tertentu yang
akan diikuti siswa.
Dalam menganalisis karakteristik siswa, ada beberapa
hal yang perl diperhatikan:
1. Karakteristik
atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skils” seperti: kemampuan intlektual, kemampuan
berpikir, mengucap, dan kemampuan gerak misalnya keterampilan menggerakkan
tangan, kaki, dan badan.
2. Karakteristik
yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial dan budaya
3. Karakteristik
yang berkenaan dengan perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dan
sebagainya.
Ada
dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1. Latar
belakang akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru perlu mengetahui
berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada
kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan
mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang
dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui
jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar
blakang siswa
Pemahaman guru terhadap
latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan
lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem
pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat
diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c. Indeks
prestasi
Indeks prestasi juga
menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
1) Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
2) Bahkan
siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas
yang sama
3) Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
4) Untuk
mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor
sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d. Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat
intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi :
1) Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
2) Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
3) Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
e. Keterampilan
membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam
belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut
tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang
bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca
siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam
rentang waktu yang telah ditentukan.
f. Nilai
ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk
memahami karakteristik awal siswa. untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu
dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh
guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan
belajar atau gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam
mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning
style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam
proses pembelajaran, banyak siswa yang
mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan
siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang
dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang
terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau
berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak
akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih
lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik
dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi,
menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar.
Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran
apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas
proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan
pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar
yang disukai oleh siswa.
h. Minat
belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok
ukur dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat
memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang
disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian
angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat
siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.
Harapan atau keinginan siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran
yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami
karakteristik siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk
mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang
akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari
mata pelajaran yang disajikan.
j.
Lapangan kerja atau cita-cita
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket.
Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi
terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan. Faktor-faktor
sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
1) Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami
karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan
pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan
terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang
digunakan terhadap anak remaja atau dewasa
2) Kematangan
Kematangan juga dapat
dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana
kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan
berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan
siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan
perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif
dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari
perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan
manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
3) Rentangan
perhatian
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal
siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
4) Bakat-bakat
istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki
berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu
memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
5) Hubungan
dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari
ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak
lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan
emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak
lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran
hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan
menggairahkan menjadikan belajar efektif. Dengan demikian memahami hubungan
antar siswa membantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang
bertumpu kepada kerja sama siswa dalam belajar
6) Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa
juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan sumber belajar. Secara
kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala
dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.
2. Manfaat
memahami karakteristik siswa
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat)
bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu
mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih
baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara
optimal.
b. Memporoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan
ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih
mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c. Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan
demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial
emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang
lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d. Mengetahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat
perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara
belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran
yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku
yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara
yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal
f. Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi
yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahui
tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya.
Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar
dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h. Mengetahui
tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan
bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih
mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan
kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan
berhasil.
i.
Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai
pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses
belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar